1. TERITORIALITAS
Menurut Holahan, Teritorialitas adalah suatu tingkah laku yang diasosiasikan pemilikan atau tempat yang ditempatinya atau area yang sering melibatkan cirri pemiliknya dan pertahanan dari serangan orang lain. Degan demikian menurut Altman (1975) penghuni tempat tersebut dapat mengontrol daerahnya atau unitnya dengan benar, atau merupakan suatu territorial primer. Menurut Lang (1987), terdapat empat karakter dari territorialitas, yaitu :
1.Kepemilikan atau hak dari suatu tempat
2.Personalisasi atau penandaan dari suatu area tertentu
3.Hak untuk mempertahankan diri dari ganggunan luar
4.Pengatur dari beberapa fungsi, mulai dari bertemunya kebutuhan dasra psikologis sampai kepada kepuasan kognitif dan kebutuhan-kebutuhan estetika
Menurut Altman (1975), territorial bukan hanya alat untuk menciptakan privasi saja, melainkan berfungsi pula sebagai alat untuk menjaga keseimbangan hubungan social. Altman juga membagi territorialitas menjadi tiga, yaitu :
1. Territorial Primer
Jenis tritori ini dimiliki serta dipergunakan secara khusus bagi pemiliknya. Pelanggaran terhadap teritori uatam ini akan mengakibatkantimbulnya perlawanan dari pemiliknya karena menyangkut masalah serius terhadap aspek psikologis pemiliknya, yaitu dalam hal harga diri dan identitasnya.
2. Territorial Sekunder
Jenis teritori ini lebih longgar pemakaiannya dan pengontrolan oleh perorangan. Territorial ini juga dapat digunakan oleh orang lain yang masih di dalam kelompok ataupun orang yang mempunyai kepentingan kepada kelompok itu. Sifat teritori sekunder adalah semi-publik.
3. Territorial Umum
Territorial umum dapat digunakan oleh setiap orang dengan mengikuti aturan-aturan yang lazim di dalam masyarakat dimana territorial umum itu berada. Territorial umum dapat dipergunakan secara sementara dalam jangka waktu lama maupun singkat.
Apa perbedaan ruang personal dengan teritorialitas? Seperti pendapat Sommer dan de War (1963), bahwa ruang personal dibawa kemanapun seseorang pergi, sedangkan teritori memiliki implikasi tertentu yang secara geografis merupakan daerah yang tidak berubah-ubah
2. RUANG PERSONAL
A. Pengertian Ruang Personal
Istilah personal space pertama kali digunakan oleh Katz pada 1973 dan bukan merupakan sesuatu yang unik dalam istilah psikologi, karena istilah ini juga dipakai dalam bidang biologi, antronologi, dan arsitektur (Yusuf, 1991).
Selanjutnya dikatakan bahwa studi personal space merupakan tinjauan terhadap perilaku hewan dengan cara mengamati perilaku mereka berkelahi, terbang, dan jarak sosial antara yang satu dengan yang lain. Kajian ini kemudian ditransformasikan dengan cara membentuk pembataas serta dapat pula diumpamakan semacam gelembung yang mengelilingi individu dengan individu lain.
Masalah menegnai ruang personal ini berhubungan dengan batas-batas di sekeliling seseorang. Menurut Sommer (dalam Altman, 1975) ruang personal adalah daerah di sekeliling seseorang dengan batas-batas yang tidak jelas dimana seseorang tidak boleh memasukinya. Goffman (dalam Altman, 1975) menggambar ruang personal sebagai jarak/daerah di sekitar individu dimana jika dimasuki orang lain, menyebabkan ia merasa batasnya dilanggar, merasa indivdu dimana jika dimasuki orang lain, menyebabkan ia merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang, dan kadang-kadang menarik diri.
Beberapa definisi ruang personal secara implisit berdasarkan hasil-hasil penelitian, antara lain:
• ruang personal adalah batas-batas yang tidak jelas antara seseorang dengan orang lain.
• ruang personal sesungguhnya berdekatan dengan diri sendiri.
• pengaturan ruang personal merupakan proses dinamis yang memungkinkan diri kita keluar darinya sebagai suatu perubahan situasi.
• ketika seseorang melanggar ruang personal orang lain, maka dapat berakibat kecemasan, stres, dan bahkan perkelahian.
• ruang personal berhubungan secara langsung dengan jarak-jarak antar manusia, walaupun ada tiga orientasi dari orang lain: berhadapan, saling membelakangi, dan searah.
Ada kecenderungan dari para peneliti untuk menyamankan ruang personal dengan suatu gelembung yang mengepung kita, dan memiliki sejumlah kegunaan. Sebagai contoh, Hayduk percaya bahwa ruang personal merupakan suatu bentuk tiga dimensional. Umumnya berbentuk silinder dan dari bentuknya kita dapat melihat bahwa bentuk tersebut ajeg pada bagian atas pinggang kita, tetapi kemudian makin menyampit dari pinggang ke bawah.
Dengan definisi ruang personal sebagai “batas yang tak terlihat yang mengelilingi kita, dimana orang lain tidak dapat melanggarnya”, maka ide ini dapat dikinotasikan secara jelas secara visual dari pada pemahaman yang hanya ditulis secara teoritis.
Menurut Edward T. Hall, seorang antropolog, bahwa dalam interaksi sosial terdapat empat zona spasial yang meliputi: jarak intim, jarak personal, jarak sosial, dan jarak publik. Kajian ini kemudian dikenal dengan istilah Proksemik (kedekatan) atau cara seseorang menggunakan ruang dalam berkomunikasi (dalam Altman, 1975).
1. Pertama, jarak intim adalah jarak yang dekat/akrab atau keakraban dengan jarak 0-18 inci. Menurut Hall pada jarak yang akrab ini kemunculan orang lain adalah jelas sekali dan mungkin suatu saat akan menjadi sangat besar karena sangat meningkatnya masukan panca indera. Penglihatan, panas tubuh orang lain, suara, bau, dan tarikan nafas, semuanya menyatu sebagai tanda yang sangat jelas tentang keterlibatan orang lain. Pada jarak 0-6 inci (fase dekat pada jarak intim), kontak fisik merupakan suatu hal yang teramat penting. Hall menggambarkan bahwa pada jarak ini akan mudah terjadi pada saat seseorang sedang bercinta , olahraga gulat, saling menyenangkan, dan melindungi. Pada jarak ini kemungkinan untuk menerima dan menyampaikan isyarat-isyarat komunikasi adalah sangat luar biasa. Seseorang dapat melihat dengan jelas keseluruhan orang yang sedang dihadapinya seperti tekstur kulitnya, kerut dan cacat wajahnya, warna matanya, tingkat kepu tihan bola matanya, kerutan pada keningnya, dan mulutnya. Pada jarak sedekat itu kita lebih dari sekedar melihat.
Zona yang kedua adalah personal distance (jarak pribadi), yang memiliki jarak antara 1,5-4 kaki. Jarak ini adalah karateristik kerenggangan yang biasa dipakai individu satu sama lain. Gangguan diluar jarak ini menjadi tidak menyenangkan. Jarak pribadi ini masih mengenal pembagian fase menjadi dua: fase dekat (1,5-2,5 kaki) dan fase jauh (2,5-4 kaki). Pada fase dekat masih memungkinkan banyak sekali pertukaran sentuhan, bau, pandangan, dan isyarat-isyarat lainnya, meski tidak sebanyak pada intimate distance. Otot-otot wajah, pori-pori-, dan rambut wajah, masih nampak/dapat dilihat, sama halnya pada intimate zone. Hall merasa bahwa ada fase dekat pada jarak personal ini diperuntukan bagi pasangan intim. Pada fase jauh yang meliputi jarak 2,5-4 kaki, jaraknya dapat memanjang sampai jarak dimana masing-masing orang dapat saling menyentuh dengan menglurkan tangannya. Di luar jarak ini menurut Hall seseorang tidak dapat dengan mudah memegang tangan orang lain. Pada jarak ini komunikasi halus (fine grain communication) masih dapat diamati, termasuk warna rambut, tekstur kulit, dan roman muka. Isyarat suara masih banyak, namun bau dan panas tubuh kadang-kadang tigak terdeteksi jika tidak menggunakan parfum. Zona jarak pribadi adalah transisi antara kelompok intim dengan tingkah laku umum yang agak formal.
2. Daerah ketiga adalah jarak sosial (social distance), yang mempunyai jarak 4-25 kaki dan merupakan jarak-jarak normal yang memungkinkan terjadinya kontak sosial yang umum serta hubungan bisnis. Dalam penelitian disuatu kantor terbukti bahwa pada susunan bangku-bangku dan perabotan milik kantor sering disusun ternyata secara tak sengaja berdasarkan pada zona jarak sosial.
Pada bagian yang dekat dengan zona sosial atau pada jarak 4-7 kaki, kontak sosial tidak begitu terselaraskan dengan baik dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Isyarat-isyarat vokal seperti kekerasan dan tinggi rendahnya suara dapat dengan mudah dideteksi, tetapi panas tubuh dan isyarat-isyarat sentuhan lainnya menjadi relatif tidak penting. Interaksi diantara orang yang secara dekat bekerja sama dan diantara perkenalan-perkenalan yang terjadi secara kebetulan pada jarak ini, dan hal itu adalah jarak yang dapat diterima dan pantas dalam lingkungan umum. Hasil pengamatan Hall, bahwa orang-orang yang ada dibandara atau dalam percakapan umum dijalan-jalan dan kantor-kantor seringkali menjaga jarak satu sama lain dalam range ini.
Fase yang ketiga adalah fase jauh atau dalam jarak 7-12 kaki, seringkali lebih formal, dimana pengamatan visual secara terinci seringkali terlawatkan , meskipun seluruh tubuh orang lain dapat dengan mudah dilihat. Panas tubuh, sentuhan dan bau biasanya tidak lagi ada pada jarak ini.
3. Daerah yang keempat/terakhir pada zona publik, yaitu pada jarak 12-25 kaki atau jarak-jarak dimana isyarat-isyarat komunikasi lebih sedikit dibandingkan daerah-daerah terdahulu. Jarak ini secara khusus disediakan untuk situasi-situasi formal atau pembicaraan umum atau orang-orang yang berstatus lebih tinggi, misalnya dalam kelas.
3. PRIVASI
A. Pengertian Privasi
Privasi merupakan tingkatan interaksi atau keterbukaan yang dikehendaki seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu. Tingkatan privasi yang diinginkan itu menyangkut keterbukaan atau ketertutupan, adanya keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain, atau justru ingin menghindar atau berusaha supaya sukar dicapai oleh orang lain (Dibyo Hartono, 1986).
Rapoport (dalam Soesilo, 1988) mendefinisikan privasi sebagai suatu kemampuan untuk mengontrol interaksi, kemampuan untuk memperoleh pilihan-pilihan dan kemampuan untuk mencapai interaksi yang diinginkan. Privasi jangan dipandang hanya sebagai penarikan diri seseorang secara fisik terhadap pihak-pihak lain dalam rangka menyepi saja.
Marshall (dalam Wrightman & Deaux, 1981) dan ahli-ahli lain (seperti Bates, 1964; Kira, 1966 dalam Altman, 1975) mengatakan bahwa privasi menunjukkan adanya pilihan untuk menghindarkan diri dari keterlibatan dengan orang lain dan lingkungan sosialnya. Sedangkan menurut Altman (1975) privasi adalah proses pengontrolan yang selektif terhadap akses kepada diri sendiri dan akses kepada orang lain.
Fungsi Privasi
Altman (1975) menjabarkan beberapa fungsi privasi :
• fungsi pertama privasi adalah pengatur dan pengontrol interaksi interpersonal yang berarti sejauh mana hubungan dengan orang lain diinginkan, kapan waktunya menyendiri dan kapan waktunya bersama-sama dengan orang lain. privasi dibagi menjadi 2 macam, yaitu privasi rendah (terjadi bila hubungan dengan orang lain dikehendaki), dan privasi tinggi (terjadi bila ingin menyendiri dan hubungan dengan orang lain dikurangi).
• fungsi kedua privasi adalah merencanakan dan membuat strategi untuk berhubungan dengan orang lain, yang meliputi keintiman / jarak dalam berhubungan dengan orang lain.
• fungsi ketiga privasi adalah memperjelas identitas diri.
faktor-faktor Yang Mempengaruhi Privasi
Terdapat faktor yang mempengaruhi privasi yaitu faktor personal, faktor situasional, faktor budaya.
• Faktor Personal. Marshall (dalam Gifford, 1987) mengatakan bahwa perbedaan dalam latar belakang pribadi akan berhubungan dengan kebutuhan akan privasi. Dalam penelitiannya, ditemukan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam suasana rumah yang sesak akan lebih memilih keadaan yang anonim dan reserve saat ia dewasa. Sedangkan orang menghabiskan sebagian besar waktunya di kota akan lebih memilih keadaan anonim dan intimacy.
• Faktor Situasional. Beberapa hasil penelitian tentang privasi dalam dunia kerja, secara umum menyimpulkan bahwa kepuasaan terhadap kebutuhan akan privasi sangat berhubungan dengan seberapa besar lingkungan mengijinkan orang-orang di dalamnya untuk menyendiri (Gifford, 1987).
• Faktor Budaya. Penemuan dari beberapa peneliti tentang privasi dalam berbagai budaya (seperti Patterson dan Chiswick pada suku Iban di Kalimantan, Yoors pada orang Gypsy dan Geertz pada orang Jawa dan Bali) memandang bahwa tiap-tiap budaya tidak ditemukan adanya perbedaan dalam banyaknya privasi yang diinginkan, tetapi sangat berbeda dalam cara bagaimana mereka mendapatkan privasi (Gifford, 1987).
Pengaruh Privasi Terhadap Perilaku
Maxine Wolfe dan kawan-kawan (dalam Holahan, 1982) mecatat bahwa pengelolahan hubungan interpersonal adalah pusat dari pengalaman tentang privasi dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, orang yang terganggu privasinya akan merasakan keadaan yang tidak mengenakkan. Sedangkan Schwartz (dalam Holahan, 1982) menemukan bahwa kemampuan untuk menarik diri ke dalam privasi (privasi tinggi) dapat membantu membuat hidup ini lebih mengenakkan saat harus berurusan dengan orang-orang yang “sulit”. Sementara hal yang senada diungkapkan oleh westin bahwa saat-saat kita mendapatkan privasi seperti yang kita inginkan, kita dapat melakukan pelepasan emosi dari akumulasi tekanan hidup sehari-hari dan kita juga dapat melakukan evaluasi diri serta membantu kita mengembangkan dan mengelola perasaan otonomi diri. Otonomi ini meliputi perasaan bebas, kesadaran memilih dan kemerdekaan dari pengaruh orang lain.
D. HUBUNGAN ANTARA TERITORIALITAS, RUANG PERSONAL DAN PRIVASI
Teritorialiatas,Ruang Personal dan dan Privasi memiliki hubungan satu sama lalinnya, teritorialiatas merupakan cakupan penempatan seseorang untuk menetap satu sama lain yang memilki jangkauan tertentu dan jangkauan tersebut berada dalam ruang personal yang mencakup tiga daerah, diantaranya jarak intim, jarak personal, jarak sosial, dan jarak public. ruang personal itu sendiri memiliki batas yang tak terlihat yang mengelilingi kita, dimana orang lain tidak dapat melanggarnya. Dengan adanya privasi hubungan tersebut menjadi jelas dan membatasi ruang personal tersebut.
Sumber :
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab5-ruang_personal_dan_teritorialias.pdf
Senin, 25 April 2011
Minggu, 27 Maret 2011
KEPADATAN DAN KESESAKAN
A. Pengertian Kepadatan
Definisi kepadatan beberapa ahli :
· Kepadatan menurut Sundstrom (dalam Wrightsman & Deaux, 1981), yaitu sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan.
- Sejumlah individu yang berada di suatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik (Holahan, 1982; Heimstra dan McFaring, 1978; Stokols dalam Schmidt dan Keating, 1978).
- Sejumlah individu yang berada di suatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik (Holahan, 1982; Heimstra dan McFaring, 1978; Stokols dalam Schmidt dan Keating, 1978).
· Suatu keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangannya (Sarwono, 1992).
Penelitian tentang kepadatan manusia berawal dari penelitian terhadap hewan yang dilakukan oleh John Calhoun. Penelitian Calhoun (dalam Worche dan Cooper, 1983) bertujuan untuk mengetahui dampak negatif kepadatan dengan menggunakan hewan percobaan tikus. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perilaku kanibal pada hewan tikus seiring dengan bertambahnya jumlah tikus. Pertumbuhan populasi yang tak terkendali, memberikan dampak negatif terhadap tikus – tikus tersebut. Terjadi penurunan fisik pada ginjal, otak, hati, dan jaringan kelenjar, serta penyimpangan perilaku seperti hiperaktif, homoseksual, dan kanibal. Akibat keseluruhan dampak negatif tersebut menyebabkan penurunan kesehatan dan fertilitas, sakit, mati, dan penurunan populasi.
Penelitian terhadap manusia pernah dilakukan oleh Bell (dalam Setiadi, 1991) mencoba memerinci: bagaimana manusia merasakan dan bereaksi terhadap kepadatan yang terjadi; bagaimana dampaknya terhadap tingkah laku sosial; dan bagaimana dampaknya terhadap task performance (kinerja tugas)? Hasilnya memperlihatkan ternyata banyak hal-hal yang negatif akibat dari kepadatan, diantaranya :
1. ketidaknyamanan dan kecemasan, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, hingga terjadi penurunan kesehatan atau peningkatan pada kelompok manusia tertentu.
2. peningkatan agresivitas pada anak – anak dan orang dewasa (mengikuti kurva linear) atau menjadi sangat menurun (berdiam diri/murung) bila kepadatan tinggi sekali (high spatial density). Juga kehilangan minat berkomunikasi, kerjasama, dan tolong-menolong sesama anggota kelompok.
3. terjadi penurunan ketekunan dalam pemecahan persoalan atau pekerjaan. Juga penurunan hasil kerja terutama pada pekerjaan yang menuntut hasil kerja yang kompleks.
Dalam penelitian tersebut diketahui pula bahwa dampak negatif kepadatan lebih berpengaruh terhadap pria atau dapat dikatakan bahwa pria lebih memiliki perasaan negatif pada kepadatan tinggi bila dibandingkan wanita. Pria juga bereaksi lebih negatif terhadap anggota kelompok, baik pada kepadatan tinggi ataupun rendah dan wanita justru lebih menyukai anggota kelompoknya pada kepadatan tinggi.
Pembicaraan tentang kepadatan tidak terlepas dari masalah kesesakan. Kesesakan atau crowding merupakan persepsi individu terhadap keterbatasan ruang, sehingga lebih bersifat psikis (Gifford, 1978; Schmidt dan Keating, 1979; Stokois dalam Holahan, 1982). Kesesakan terjadi bila mekanisme privasi individu gagal berfungsi dengan baik karena individu atau kelompok terlalu banyak berinteraksi dengan yang lain tanpa diinginkan individu tersebut (Altman, 1975).
Baum dan Paulus (1987) menerangkan bahwa proses kepadatan dapat dirasakan sebagai kesesakan atau tidak dapat ditentukan oleh penilaian individu berdasarkan empat faktor, yaitu:
a. seting fisik.
b. seting sosial.
c. personal.
d. Kemampuan beradaptasi.
B. Pengertian Kesesakan
1. PENGERTIAN KESESAKAN
Kesesakan merupakan fenomena yang akan menimbulkan permasalahan bagi setiap negara didunia dimasa yang akan datang. Hal ini dikarenakan terbatasnya luas bumi dan potensi sumbar daya alam yang dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia, sementara perkembangan jumlah manusia di dunia tidak terbatas.
Kesesakan timbul dari perkembangan jumlah manusia di dunia pada masa kini telah menimbulkan berbagai masalah sosial dibanyak negara(mis: Indonesia, Cina, India dan sebagainya), baik permasalahan yang bersifat fisik maupun psikologis. Dalam perspektif Psikologis dari kesesakan adalah semakin banyaknya orang yang mengalami stres dan berperilaku agresif destrukif.
2. PENYEBAB PENDUDUK DUNIA MAKIN PADAT
Masalah kepadatan penduduk disebabkan akibat menurunnya tingkat kematian dengan tanpa disertai menurunnya tingkat kesuburan. Umumnya dinegara-negara berkembang sudah mampu menurunkan tingkat kesuburan, sedangkan dinegara-negara yang sedang berkembang belum mampu menurunkan tingkat kematian dan kesuburan.
1. Ada alasan-alasan tertentu mengapa tingkat pertambahan penduduk di negara yang sedang berkembang itu tetap tinggi. Beberapa pendapat yang diperkuat oleh hasil penelitian mengungkapkan bahwa tingkat pertambahan penduduk yang tinggi tersebut antara lain disebabkan oleh :
Kesuburan yang tinggi merupakan jawaban terhadap kematian yang tinggi untuk mempertahankan kelangsungan hidup keluarga bangsa dan agama.
Kesuburan yang tinggi merupakan jawaban terhadap kematian yang tinggi untuk mempertahankan kelangsungan hidup keluarga bangsa dan agama.
2. Dinegara-negara yang sedang berkembang , anak adalah kekayaan orang tua karena merupakan jaminan sosial, ekonomi, dan emosi dihari tua.
3. Dinegara berkembang, perkawainan pada usia remaja sering dilakukan, terutama di desa-desa.
4. Para orang tua dan mertua selalu mengharapkan perkawinan anaknya segera dikaruniani anak.
5. Menurut Masri Singarimbun(1977), para orang tua di Sunda dan Jawa, baik di desa maupun dikota mempunyai konsep yang sama tentang besarnya keluarga ideal. Keluarga ideal tersebut terdiri dari suami, istri, dan 4 orang anak.
3. TEORI KESESAKAN
Kepadatan memang mengakibatkan kesesakan, tetapi bukan satu-satunya syarat yang dapat menimbulkan kesesakan. Ada 3 konsep yang menjelaskan terjadinya kesesakan, yaitu teori information overload, teori behavioral constraint, teori ecological model (Stocols dalam Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982; Jain;1987). Ketiga konsep tersebut menjelaskan hubungan kepadatan fisik dengan kesesakan. Semakin padat suatu kawasan semakin banyak informasi yang melintas dihadapan penghuni adalah dinamika yang tidak terhindarkan, bila informasi tersebut melampaui batas kemampuan penerimaannya , maka timbulah maslah psikologis.
Semakin banyak penduduk dalam wilayah yang terbatas juga bisa menyebabkan adanya constrain bagi individu. Konsep ini berkaitan dengan konsep ekologi. Ketika daya dukung wilayah tidak mencukupi maka lingkungan alam dan sosial akan saling terkait dalam menimbulkan masalah( Sulistyani et al., 1993).
Semakin banyak penduduk dalam wilayah yang terbatas juga bisa menyebabkan adanya constrain bagi individu. Konsep ini berkaitan dengan konsep ekologi. Ketika daya dukung wilayah tidak mencukupi maka lingkungan alam dan sosial akan saling terkait dalam menimbulkan masalah( Sulistyani et al., 1993).
1. Dalam suasana sesak dan padat, kondisi psikologis negatif mudah timbul sehingga memunculkan stres dan bernagai macam aktivitas sosial negatif( Wrightsman dan Deaux,1981). Bentuk aktivitas tersebut antara lain : munculnya bermacam-macam penyakit fisik dan psikologis, stres, tekanan darah meningkat, psikosomatis dan gangguan jiwa;
2. munculnya patologi sosial seperti kejahatan dan kenakalan remaja;
3. munculnya tingkah laku sosial yang negatif, seperti agresi, menarik diri, prososial, dan kecenderungan berprasangka;
4. menurunya prestasi kerja.
Teori 2 Kesesakan :
1. Teori Beban Stimulus
Kesesakan akan terjadi bila stimulus yang diterima individu terlalu banyak (melebihi kapasitas kognitifnya) sehingga timbul kegagalan dalam memproses stimulus atau info dari lingkungan.
Menurut Keating, Stimulus adalah hadirnya banyak orang dan aspek-aspek interaksinya, kondisi lingkunga fisik yang menyebabkan kepadatan social. Informasi yang berlebihan dapat terjadi karena :
a. Kondisi lingkungan fisik yang tidak menyenangkan
b. Jarak antar individu (dalam arti fisik) yang terlalu dekat
c. Suatu percakapan yang tidak dikehendaki
d. Terlalu banyak mitra interaksi
e. Interaksi yang terjadi dirasa terlalu dalam atau terlalu lama
2. Teori Ekologi
Membahas kesesakan dari sudut proses social
a. Menurut Micklin :
Sifat-sifat umum model pada ekologi manusia :
1. Teori ekologi perilaku : Fokus pada hubungan timbale balik antara manusia dan lingkungan.
2. Unit analisisnya : Kelompok social, bukan individu dan organisasi social memegang peranan penting
3. Menekankan pada distribusi dan penggunaan sumber-sumber material dan sosial
b. Menurut Wicker :
Teori Manning : Kesesakan tidak dapat dipisahkan dari factor setting dimana hal itu terjadi.
3. Teori Kendala Perilaku
Kesesakan terjadi karena adanya kepadatan sedemikian rupa sehingga individu merasa terhambat untuk melakukan sesuatu.Kesesakan akan terjadi bila system regulasi privasi seseorang tidak berjalan secara efektif lebih banyak kontak social yang tidak diinginkan. Kesesakan timbul karena ada usaha-usaha yang terlalu banyak, yang butuh energy fisik maupun psikis, guna mengatur tingkat interaksi yang diinginkan.
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesesakan
1. Faktor Personal
a. Kontrol Pribadi dan Locus Of Control; Selligman, dkk :
Kepadatan meningkat bias menghasilkan kesesakan bila individu sudah tidak punya control terhadap lingkungan sekitarnya. Control pribadi dapat mengurangi kesesakan. Locus Of Control ibternal : Kecendrungan individu untuk mempercayai (atau tidak mempercayai) bahwa keadaab yang ada di dalam dirinya lah yang berpengaruh kedalam kehidupannya.
Kepadatan meningkat bias menghasilkan kesesakan bila individu sudah tidak punya control terhadap lingkungan sekitarnya. Control pribadi dapat mengurangi kesesakan. Locus Of Control ibternal : Kecendrungan individu untuk mempercayai (atau tidak mempercayai) bahwa keadaab yang ada di dalam dirinya lah yang berpengaruh kedalam kehidupannya.
b. Budaya, pengalaman dan proses adaptasi
Menurut Sundstrom : Pengalaman pribadi dalam kondisi padat mempengaruhi tingkat toleransi.
Menurut Yusuf : Kepadatan meningkat menyebabkan timbulnya kreatifitas sebagai intervensi atau upaya menekankan perasaan sesak.
c. Jenis kelamin dan usia
Pria lebih reaktif terhadap kondisi sesak
Perkembangan, gejala reaktif terhadap kesesakan timbul pada individu usia muda.
2. Faktor Sosial
a. Kehadiran dan perilaku orang lain
b. Formasi koalisi
c. Kualitas hubungan
d. Informasi yang tersedia
3. Faktor Fisik
- Goves dan Hughes : Kesesakan didalamnya rumah berhubungan dengan factor-faktor fisik, jenis rumah, urutan lantai, ukuran, suasan sekitar.
- Altman dan Bell, dkk : Suara gaduh,panas, polusi, sifat lingkungan, tipe suasana, karakteristik setting mempengaruhi kesesakan.
- Altman dan Bell, dkk : Suara gaduh,panas, polusi, sifat lingkungan, tipe suasana, karakteristik setting mempengaruhi kesesakan.
Sabtu, 26 Februari 2011
PERAN INTERAKSI LINGKUNGAN TERHADAP PEMBENTUKAN PERILAKU INDIVIDU
psikologi lingkungan adalah ilmu kejiwaan yang mempelajari perilaku manusia berdasarkan pengaruh dari lingkungan tempat tinggalnya, baik lingkungan sosial, lingkungan binaan ataupun lingkungan alam.
Psikologi lingkungan adalah hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan fisiknya , baik yang buatan maupun yang alamiah (Bell.dkk 1996).
Avin Fadilla Helmi (1999) menyebutkan bahwa psikologi lingkungan merupakan ilmu perilaku yang berkaitan dengan lingkungan fisik, merupakan salah satu cabang ilmu Psikologi yang tergolong masih muda. Teori-teori psikologi lingkungan dipengaruhi, baik oleh tradisi teori besar yang berkembang dalam disiplin ilmu Psikologi maupun diluar ilmu psikologi. Grand theories yang sering diaplikasikan dalam psikologi lingkungan seperti misalnya teori kognitif, teori behavioristik, dan teori medan.
- Teori psikologi lingkungan dari Schoggen
Schogeen mengembangkan teori Behavior Setting dari Roger R. Barker yang terkenal. Inti teori ini adalah bahwa manusia berperilaku sesuai dengan setting (tatanan) lingkungan. Di tempat yang sama , perilaku dapat berbeda kalau tatanan tempat itu berbeda ( misalnya, ruangan kelas yang diubah tatanannya menjadi ruang pesta akan merangsang timbulnya perilaku berpesta , bukan perilaku belajar- mengajar . penelitian barker mengenai Behavior Setting di sebuah kota di medwest, dilengkapi dengan hasil-hasil penelitian di berbagai setting lain. Hasilnya adalah bahwa teori behavior setting berkait dengan berbagai konsep dalam ilmu-ilmu social, lingkungan , dan perilaku.
Sabtu, 30 Oktober 2010
MAKALAH PSIKOLOGI KELOMPOK
TUGAS
PSIKOLOGI KELOMPOK
REVIEW JURNAL INDONESIA DAN LUAR NEGERI
Disusun oleh :
Ø Ayu cikita maretri 10508276
Ø Alfi reza 10508010
Ø Azariah kartika 10508034
Ø Farrah Fatiya 10508076
Ø Eka Sri sugiyanti 10506071
Daftar isi
Bab I.
Jurnal I. KOHESIFITAS SUPORTER TIM SEPAK BOLA PERSIJA
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penelitian
C. Metode penelitian
D. Hasil penelitian
E. Prestasi kelompok
Bab II.
Jurnal II. KERAGAMAN DINAMIKA KELOMPOK TANI (Studi Kasus di Wilayah Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi)
A. Latar Belakang
B. Metode penelitian
C. Hasil Dan Pembahasan
D. Prestasi kelompok
BAB. III
Jurnal III. KONFLIK KEPENTINGAN ANTARA AMERIKA DAN KELOMPOK ISLAM FUNDAMENTALIS
A. Latar Belakang
B. Metode penelitian
C. Hasil Dan Pembahasan
BAB. IV
Jurnal IV. SUBJEKTIVE PERCEPTIONS OF STRESS AND COPING BY MATHERS OF CHILDREN WITH INTELECTUAL DISTABILITY A NEEDS ASSESSMENT
A. Latar belakang
B. Metode penelitian
C. Hasil penelitian
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala, karena berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini, jurnal ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Psikologio Kelompok.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi kita semua dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Kalimalang,28/10/2010
BAB. IKalimalang,28/10/2010
JURNAL I
KOHESIFITAS SUPORTER TIM SEPAK BOLA PERSIJA
A. LATAR BELAKANGPersija adalah sebuah klub sepak bola yang terletak di Jakarta . persija berdiri pada tanggal 28 november 1928 dan memiliki julukan Macan Kemayoran. Keberadaan persija dalam kencah liga Indonesia dan bermain dalam Devisi utama liga Indonesia memberikan warna tersendiri, bukan hanya oleh pemainn ya yang menawan tetapi juga pada supporter pendukung yang setia menemaninyaa The Jakmania.
The jakmania adalah kelompok supporter pendukung tim sepak bola persija yang berdiri pada 19 desember 1997, ini merupakan supporter yang terbentuk karena suatu alasan, yaitu sama-sama mendukung tim sepak nola persija dan berupaya untuk mengorganisir para supporter persija . pada awalnya tim ini hanya berjumlah 100 orang anggota dan 40 orang pengurus dan dipimpin oleh Gugun Gondrong pada parode 1999-2000, dan kemudian diganti oleh Fery indrasjarief. Dan selama dipimpin oleh Fery selama 3 pariode, dia berhasil mengumpulkan 30.000 anggota dari 50 koordinator wilayah.
Banyak kegiatan yang dilakukan oleh the jakmania, dari kegiatan dalam sepak bola hingga kegiatan luar lainnya seperti Jak On Air yaitu kelompok yang bekerjasama dengan Radio Utan Kayu dan setiap minggunya mereka mendatangkan tamu dari pemain persija.
Hal-hal tersebut melatarbelakangi peneliti untuk mengangkat tema kohesifitas untuk dijadikan sebagai bahan penelitian. Dikarenakan adanya pandangan masyarakat yang bertengtangan mengenai supporter sepak bola. Masyarakat memandang kegiatan tersebut dapat memicu timbulnya agresifitas kelompok yang merugikan banyak pihak tanpa melihat adanya kohesifitas yang dapat membangun serta bersifat negative.
B. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan latar belakang diatas , maka peneliti ingin mengetahui :
1) Bagaimana kohesifitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania?
2) Faktor –faktor yang menyebabkan kohesivitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania?
C. METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah kualitatif. Yaitu metode yang berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam siatuasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri. Metode ini digunakan dalam situasi yang wajar ( natural setting) dan lebih berdasarkan pada filsafat fenomenologi yang mengutamakan penghayatan dan lebih menekankan kepada study kasus.
Tekhnik pengumpulan data dengan dua cara, yaitu:
1) Wawancara
2) observasi
D. HASIL PENELITIAN
Dari hasil penelitian diatas, dapat dijelaskan beberapa hal, yaitu :
1) Kohesifitas indifidu dalam kelompok kecil The Jakmania.Berdasarkan penelitian kohesifitas tersebut seperti, aktifitas kelompok dalam komunitas ataupun aktifitas diluar selain nonton bareng.
2) factor-faktor yang menyebabkan kohesifitas individu dalam kelompok kecil The Jakmania. Pertama, yaitu latar belakang kelompok yang sering melakukan kegiatan bersama sehingga menyebabkan mereka akrab dengan satu sama lainnya, selain itu meraka juga terlihat sangat kompak dengan adanya kegiatan-kegiatan di dalam kelompok tersebut.
E. PRESTASI KELOMPOK
Keberadaan persija dalam kancah liga Indonesia memiliki banyak prestasi, diantaranya:
1) 1931 juara – VIJ Jakarta
2) 1933 juara – VIJ Jakarta
3) 1934 juara – VIJ Jakarta
4) 1938 juara – VIJ Jakarta
5) 1964 juara – persija Jakarta
6) 1974 juara – persija Jakarta
7) 1975 persija Jakarta dan PSMS medan( juara bersama)
8) 1977 juara – persija jakarta
9) 1979 juara – persija Jakarta
10) 1990 devisi utama peringkat 10
11) 1995 peringkat 12 wilayah barat
12) 1995 peringkat 13 wilayah barat
13) 1996 peringkat 10 wilayah barat
14) 1998 besar liga Indonesia
15) 1999 besar liga Indonesia
16) 2001 juara liga bank mandiri
17) 2002 8 besar liga bank mandiri
18) 2003 peringkat 7 liga bank mandiri
19) 2004 peringkat 3 liga bank mandiri
20) 2006 copa Indonesia juara
BAB. II
JURNAL II
KERAGAMAN DINAMIKA KELOMPOK TANI
(Studi Kasus di Wilayah Kecamatan Sukaraja Kabupaten
Sukabumi)
A. Latar Belakang
Kondisi kelompok tani dari tahun ke tahun dapat dikatakan belum mengalami perkembangan atau dapat dikatakan stasioner atau pun menurun, selain akibat dari kondisi usaha pertanian secara umum kurang menggembirakan, juga diakibatkan dari ketidakpastian kebijakan pemerintah. Secara berturut-turut, dengan keluarnya SKB menteri Pertanian dan Menteri Dalam Negeri Tahun 1986, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dapat berfungsi dengan baik walaupun tidak optimal, SKB Menteri Pertanian dan Menteri dalam Negeri Tahun 1991 yang menjadikan BPP tidak berfungsi, karena BPP menjadi instalasi Dinas Subsektor, dengan keluarnya SKB Menteri Pertanian dan Menteri Dalam Negeri 1996, ingin mengusahakan berfungsinya BIPP dan BPP, namun belum sampai berhasil sudah tersusul dengan adanya otonomi daerah. Pada otonomi daerah ternyata terjadi variasi dalam penanganan penyuluhan pertanian di masing-masing Daerah Tingkat II, ada sebagian yang masih mempertahankan keberadaan BIPP (atau dengan nama lain apapun), namun sebagian lagi menyatakan tidak jelas atau justru menghapuskannya sama sekali. BIPP yang mempunyai instalasi BPP adalah “pengelola” kelompok tani, sehingga apabila lembaga pengelolanya pasang surut (“gonjang-ganjing”), maka keberadaan kelompok tani di wilayah tersebut tentu akan terjai goncang pula.
Dengan kata lain walaupun kelompok tani tersebut ada (pernah ada) namun akibat dari uraian di atas, umumnya kelompok tani tersebut tidak/kurang dinamis, peran, fungsi kelompok tani tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, antara lain disebabkan oleh kurangnya pembinaan dari aparat (Penyuluh). Ditegaskan oleh Adjid (2001), dalam makalahnya “Pembinaan Profesionalisme Penyuluhan Pertanian Dalam Otonomi Daerah, bahwa pada era Orde Baru, menjadikan penyuluh tidak berpihak pada petani, justru berpihak pada Dinas subsektor dengan segala proyek yang ada. Penyuluh tidak lagi melayani petani sebagai tugas utamanya, justru penyuluh banyak melayani dan disibukkan dengan administrasi dan proyek-proyek yang ada pada Dinas Subsektor. Memang keadaan yang demikian ini sangat bertentangan dengan paradigma penyuluhan yang seharusnya terdapat keberpihakan dan pemberdayaan petani. Di sisi lain kesiapan daerah dalam otonomi daerah pada sebagian besar belum siap. Justru sering terjadi polemik bahwa “lembaga penyuluh” dianggap “beban” bila dihubungkan dengan apa yang disebut PAD. Dari uraian tersebut menunjukkan pada era otonomi terjadi keragaman persepsi terhadap penyuluhan pertanian. Hal ini akan berakibat langsung terhadap keberadaan kelompok tani. Demikian juga di Wilayah Kabupaten Sukabumi khususnya di Kecamatan Sukaraja. Secara empiris dapat dikatakan bahwa keadaan kelompok tani di wilayah pedesaan berkondisi sebagai berikut:
a. Sebagian tingkat kelas kelompoknya tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, status kelasnya lebih tinggi namun kegiatannya bila diukur dengan skore penilaian ternyata dinamikanya rendah.
b. Sebagian kelompok tani sudah “bubar” namun masih terdafrar.
Hal tersebut di atas disebabkan oleh tidak berfungsinya peran kelompok tani tersebut. Berdasarkan uraian di atas, untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang keberadaan/keragaan fungsi/dinamika kelompok tani di wilayah Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi perlu diadakan penelitian.
B. METODE PENELITIAN
1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di wilayah Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi. Penelitian lapangan dilakukan pada bulan Januari 2002 dan selanjutnya dilakukan penulisan laporan.
Kecamatan Sukaraja terdiri dari 12 desa dan 9 desa yang dipergunakan sebagai desa penelitian dengan mengambil sampel dua kelompok tani setiap desa sebagai responden penelitian (Daftar tertera pada lampiran 4). Sedangkan Materi yang dipergunakan dalam penelitian in adalah keragaan dinamika kelompok tani di wilayah Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi, dengan rincian materi:
1. Keragaan dinamika kelompok tani. Yang ingin diteliti tentang keragaan dinamika kelompok ini adalah:
a. Berapa besar (persen) kelompok tani yang dinamikanya termasuk kategori sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi.
b. Secara urut, ranking kelompok tani mana yang keragaan dinamika kelompok taninya paling tinggi dan kelompok mana yang paling rendah.
c. Keragaan umum kelompok tani.
2. Keragaan dinamika dari masing-masing fungsi kelompok tani. Yang ingin diteliti dari masing-masing fungsi kelompok tani adalah:
a. Fungsi kelompok tani mana yang keragaan dinamika fungsi kelompoknya paling tinggi dan fungsi kelompok mana yang rendah.
b. Berapa besar (persen) kelompok tani yang fungsi-fungsi kelompoknya termasuk kategori sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, sangat tinggi.
3. Berapa besar (persen) alasan yang dikemukakan yang dapat mempengaruhi dinamika kelompok tani tersebut. Yang termasuk kategori rendah, sedang dan tinggi ditinjau dari sisi:
a. Produktivitas usaha tani.
b. Peran pengurus kelompok.
c. Peran pembina/aparat.
2. Alat dan Bahan Penelitian
Alat pengumpul data yang dipergunakan adalah seperangkat pedoman wawancara dengan menggunakan indikator kemampuan-kemampuan kelompok dalam fungsinya sebagai kelas belajar-mengajar, sebagai unit produksi dan sebagai wahana kerjasama, bersumber dari Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Kelembagaan Tani-Nelayan Pusat Penyuluhan Pertanian, Departemen Pertanian tahun 1996.
Dari jawaban responden diberikan skore sesuai dengan tingkatan kemampuan yang ada dengan rentangan 5 kelas, dengan skore 0-100. Dari setiap fungsi kelompok, masing-masing terdapat 8 item kemampuan. Selain 8 item kemampuan tersebut dalam pedoman wawancara tersebut disertakan alasan yang dapat mempengaruhi dinamika kelompok yang terinci dari aspek produktivitas usaha tani, peran pengurus kelompok dan peran Pembina/aparat. Sedangkan Materi yang dipergunakan dalam penelitian in adalah keragaan dinamika kelompok tani di wilayah Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi, dengan rincian materi:
1. Keragaan dinamika kelompok tani. Yang ingin diteliti tentang keragaan dinamika kelompok ini adalah:
a. Berapa besar (persen) kelompok tani yang dinamikanya termasuk kategori sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi.
b. Secara urut, ranking kelompok tani mana yang keragaan dinamika kelompok taninya paling tinggi dan kelompok mana yang paling rendah.
c. Keragaan umum kelompok tani.
2. Keragaan dinamika dari masing-masing fungsi kelompok tani. Yang ingin diteliti dari masing-masing fungsi kelompok tani adalah:
a. Fungsi kelompok tani mana yang keragaan dinamika fungsi kelompoknya paling tinggi dan fungsi kelompok mana yang rendah.
b. Berapa besar (persen) kelompok tani yang fungsi-fungsi kelompoknya termasuk kategori sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, sangat tinggi.
3. Berapa besar (persen) alasan yang dikemukakan yang dapat mempengaruhi dinamika kelompok tani tersebut. Yang termauk kategori rendah, sedang dan tinggi ditinjau dari sisi:
a. Produktivitas usaha tani,
b. Peran pengurus kelompok,
c. Peran pembina/aparat.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil
Setelah data ditabulasikan, diolah dan ditafsirkan berdasarkan kriteria yang telah
ditetapkan, maka diperoleh hasil sebagai berikut:
a. Hasil dari dinamika kelompok
1) Dari 18 kelompok yang dipergunakan sebagai sampel diperoleh skore untuk dinamika kelompok dengan urutan (ranking) sebagai berikut:
NO | Kelompok | Σ Skore | Rangking | Kriteria Dinamika |
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. | Priangan Jaya 1 Priangan Jaya 2 Sukalarang 1 Sukalarang 2 Cimangkok 1 Margaluyu 1 Semplak 1 Sukamaju 1 Limabangan 1 Semplak 2 Margaluyu 2 Cimangkok 2 Limbangan 2 Sukamaju 2 Titisan 1 Cisarua 1 Cisarua 2 Titisan 2 | 1870 1860 1830 1805 1440 1420 1420 1360 1350 1340 325 1290 1280 1260 960 955 935 925 | 1 2 3 4 5 6,5 6,5 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 | Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Rendah Rendah Rendah Rendah |
BAB. III
Jurnal III
KONFLIK KEPENTINGAN ANTARA AMERIKA DAN KELOMPOK ISLAM FUNDAMENTALIS
A. Latar Belakang Masalah
Negara yang merasa memiliki ekonomi yang baik, sumber daya manusia yang potensial, dan keuangan yang kuat menpunyai banyak kepentingan, terutama kepentingan untuk menguasai perekonomian dunia. Berbagai cara dilakukan untuk memenuhi kepentingan tersebut, bahkan tidak jarang dilakukan dengan cara yang tidak etis kadang-kadang menjurus pada tindakan HAM dan kriminal. Hal ini dapat dilihat dari tindakan atau strategi yang dilakukan negara adikuasa seperti Amerika Serikat.
Bila diamati secara cermat, negara yang kaya akan sumberdaya alamnya, mayoritas penduduknya ber-agama Islam. Dalam agama Islam, manusia diwajibkan untuk berusaha atau melakukan aktivitas dalam memper-tahankan hidupnya selagi tidak ber-tentangan dengan syariat Islam, atau tidak merusak lingkungan sosial alam. Di sisi lain Amerika memiliki budaya dan kepercayaan yang berbeda dengan negara-negara yang ber-penduduk mayoritas beragama Islam, bahkan tidak jarang bertolak belakang. Hal ini sering memicu timbulnya konflik.
Masih segar dalam ingatan kita pada tanggal 20 November Presiden Republik Indonesia kedatangan tamu Presiden dari negara adikuasa Amerika yaitu George Bush, yang banyak menge-luarkan dana dalam rangka persiapan menyambut tamu dari negara adikuasa. Bahkan tak sedikit dana yang dikeluarkan. Di sisi lain negara kita dalam suasana ditimpa musibah yang tidak henti-hentinya, cukup banyak memakan korban jiwa dan materi.
Bila kita lihat pada Palestina yang terjadi konflik dengan negra Israel, pihak Amerika selalu membela ke-pentingan Israel karena mayoritas kongklomerat, ahli politik, militer, birokrat, intelektual yang menguasai Amerika adalah keturunan Yahudi. Perlu diketahui bahwa islam adalah musuhnya Yahudi, dengan kata lain Amerika jelas akan membela mati-matian kepentingan Israel, dan kurang senang terhadap negara-negara Islam. Walaupun dalam memenuhi kepentingannya berhubungan dengan negara-negara Islam tetapi hanya sebatas hubungan bisnis.
Bila diamati lebih dalam, Amerika sebenarnya memiliki kebencian terhadap negara-negara Islam khususnya umat Islam. Kebencian tersebut dapat dilihat dari perilaku media massa yang selalu menjelek-jelekkan umat Islam, bahkan tidak jarang menganggap umat Islam adalah teroris.
Efek kesemena-menaan dan ketidakadilan ini menurut para analisa terjadi peristiwa pada tanggal 11 September 2001 serangan terhadap gedung WTC dan Pentangon. Dalam peristiwa ini yang dituding adalah kelompok Islam jaringan Al-Qaeda pimpinan Osama Bin Laden. Tudingan ini sebenarnya tidak beralasan karena sampai sekarang sulit untuk dibuktikan. Mengingat Amerika merasa mengalami kesulitan untuk membuktikan siapa pelakunya, Amerika mencari kambing hitam, setiap orang Islam selalu dicurigai bahkan difitnah sebagai anggota jaringan Al-Qaeda. Tidak sedikit umat Islam yang dirugikan. Peristiwa ini kemungkinan besar merupakan rekayasa Amerika untuk memojokkan umat Islam seluruh dunia. Dengan terpojoknya negara mayoritas Amerika, agama Islam mudah untuk menekan dari berbagai aspek kepenting-an, ekonomi, politik, teknologi dan pertahanan.
B. Perumusan Masalah
1. Apakah tindakan Amerika yang selama ini merugikan banyak umat Islam dapat dibiarkan?.
2. Siapa sebenarnya teroris?.
3. Upaya-upaya apa yang harus dilakukan negara-negara yang ber-penduduk mayoritas beragama Islam terhadap kepentingan Amerika?
C. Analisis Masalah dan Pembahasan
1. Tindakan Amerika yang semena-mena terhadap negara-negara berpenduduk mayoritas Islam perlu dipikirkan oleh seluruh umat Islam, terutama OKI. Seperti kita ketahui bahwa Amerika dikuasai oleh keturunan Yahudi dalam segala sektor, baik dalam bidang politik, teknologi, pendidikan, ekonomi, bisnis, pemerintahan dan militer. Sehingga kebijakan selalu dibuat untuk menekan negara-negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam karena kebijakan masih keturunan Yahudi, secara psikologis akan timbul pemikiran untuk menekan umat Islam. Hal ini dapat dirasakan oleh Negara Palestina, Iran dan Irak yang banyak kebijakannya merugikan Negara tersebut. Secara tidak langsung tindakan ini sebenarnya menunjukkan Amerika ada di belakang Negara Israel. Tindakan itu dapat berupa sanksi ekonomi, serangan militer, dan sanksi social, Amerika dapat berperilaku seperti ini karena Amerika memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi sehingga dapat menguasai system produksi dan pasar global yang akan memperoleh keuntungan materi maupun nonmateri.
2. Siapa sebenarnya Teroris? Negara-negara berkembang khususnya Negara yang berpenduduk mayoritas muslim sering menjadi bulan-bulanan, bahkan lebih dari itu sampai dikatakan sebagai sarang teroris, istilah terroris sampai sekarang belum ada kata sepakat tentang definisinya. Oleh karena itu, batas sesuatu itu dapat dikatakan teroris sebenarnya tidak ada. Jika hal itu tidak dapat dibuktikan, dapat diperkirakan bahwa Amerika akan terjebak pada pernyataan yang dikeluarkannya. Masyarakat internasional, khususnya lewat perdebatan di PBB, sampai saat ini gagal merumuskannya karena adanya perbedaan posisi dari PBB, sampai saat ini gagal merumuskannya karena adanya perbedaan posisi dari kalangan Negara maju di satu pihak dan kalangan Negara berkembang di pihak lain. Kegagalan itu lebih banyak bersifat politis, bukan legal atau teknis. Namun, kiranya dua prinsip bisa dipegang, prinsip “jelas” dan “rinci”.
The Bill Inggris dalam pasal 21 merumuskan tersangka pelaku terorisme sebagai suspected international terrorist yaitu seseorang yang keberadaannya di Inggris diyakini menimbulkan risiko pada keamanan nasional Inggris atau mempunyai kaitan dengan anggota suatu kelompok teroris internasional pada pasal 21.2.c istilah, suspected dan adalah istilah yang tidak jelas dan mengambang yang bisa menimbulkan akibat serius karena bisa menimpa orang yang tidak bersalah, hanya karena yang bersangkutan memiliki ideologi politik, kewarga-negaraan, agama, etnis, kelompok sosial, atau keluarga yang sama dengan pelaku terorisme. Oleh sebab itu, mengapa perumusan mengenai terorisme merupakan titik tolak yang amat penting. Kasus demi kasus bermunculan di Amerika berkaitan dengan tuduhan kepada seseorang yang dianggap sebagai anggota teroris, misalnya seorang warga-negara Indonesia keturunan Arab alumni sekolah penerbangan di Amerika dituduh sebagai anggota teroris, tetapi setelah diselidiki ternyata tidak terbukti, mungkin Amerika merasa malu tidak akuratnya informasi yang diterima dari FBI sehingga warganegara Indonesia tersebut disuruh keluar dari Amerika.
Begitu juga ada beberapa keturunan Arab yang dikenakan atas tuduhan yang sama, dan lebih aneh lagi Osama bin Laden difitnah membeli anthrax dari Indonesia karena perkiraan Amerika bahwa di Indonesia mayoritas penduduk beragama Islam sehingga kemung-kinan ada yang mendukung perjuangan Osama bin Laden. Jika hal ini memiliki indikasi yang kuat bisa digunakan sebagai alasan untuk melakukan operasi militer, seperti halnya di Filipina. Ternyata dari segala tuduhan atau fitnah tersebut, setelah diselidiki tidak terbukti. Hal ini menunjukkan ketidak-profesionalan atau paniknya Amerika dalam menghadapi masalah di negaranya. Dari segala tuduhan tersebut di atas jelas umat Islam telah dirugikan karena mereka yang dikenakan atas tuduhan tersebut adalah beragama Islam. Hal ini akan membentuk opini masyarakat dunia melalui media massa baik cetak maupun elektronik. Bahkan beritanya selalu dibesar-besarkan dan hamper tiap hari. Media massa ini menggunakan teori peluru yang menyerang audiens dengan berita yang tidak benar secara bertubi-tubi, sehingga masyarakat tidak sempat berpikir secara rasional.
3. Upaya-upaya yang harus dilakukan Negara Islam terhadap kepentingan Amerika. Negara-negara mayoritas beragam Islam rata-rata memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, sehingga Amerika ingin berusaha untuk menjalin hubungan bisnis. Akan tetapi bila tidak dipikirkan secara politik ekonomi oleh Negara Islam, Amerika memiliki kecenderungan untuk mendikte dan membuat aturan sendiri walaupun aturan yang berlaku sudah ada. Untuk mengatasi hal tersebut Negara-negara Islam di bawah OKI harus bersatu dan berani menolak kepentingan Amerika. Hal ini pernah dilakukan Iran, Irak dan Malaysia. Walaupun risikonya cukup besar, ada perlawanan sehingga Amerika tidak berani semena-mena atau berpikir matang sebelum membuat kebijakan dan tindakan untuk Negara-negara Islam. Seluruh umat Islam di dunia, sebaiknya bersatu dan membentuk suatu kerja sama di antara Negara-nerara yang mayoritas penduduknya umat Islam.
BAB IV
JURNAL IV
SUBJEKTIVE PERCEPTIONS OF STRESS AND COPING BY MATHERS OF CHILDREN WITH INTELECTUAL DISTABILITY A NEEDS ASSESSMENT
A. LATAR BELAKANG
Tunagrahita adalah keadaaan keterbelakangan metal, keadaan ini dikenal juga retardasi mental (mental retardation). Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 Sekolah dasar.
Belakangan ini, layanan bagi individu yang mengalami tunagrahita dilandasi oleh HAM.alayanan bagi kelompok ini tidak bersifat institusional dipanti. Tetapi dikembalikan kepada orangtua mereka atau disebut de- institusionalisas. Oleh karena itu yang paling bertanggung jawab ats kelompok tunagrahita ini adalah orangtua mereka sendiri.
Namun bagaimana kualitas hidup sekelompok anak tunagrahita yang berada dilingkungan keluarga mereka, dengan meng-asasmen perasaan orangtua dalam menghadapi anak-anaknya yang mengalami tunagrahita dan coping strategy yang mereka gunakan
B. METODE PENELITIAN
Penelitian yang digunakan ada dua tahap, yaitu; pertama dengan metode kuantitatif dan kedua kualitatif. Penelitian ini di uji kepada 12 orangtua yang anaknya mengalami tunagrahita.
Penelitian kualitatif adalah riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif.
Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.
Peserta diminta untuk menjawab pertanyaan umum, dan interviewer atau moderator group periset menjelajah dengan tanggapan mereka untuk mengidentifikasi dan menentukan persepsi, pendapat dan perasaan tentang gagasan atau topik yang dibahas dan untuk menentukan derajat kesepakatan yang ada dalam grup. Kualitas hasil temuan dari penelitian kualitatif secara langsung tergantung pada kemampuan, pengalaman dan kepekaan dari interviewer atau moderator group.
Penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari hubungan-hubungan kuantitatif.
C. HASIL PENELITIAN
Hasil analisis kuantitatif dari QSR (Quennsionares On resourses and Stres) dan W-CR (way-coping revised) menunjukan bahwa tidak semua perasaan orangtua yang bersifat unik dapat terungkap. Hanya aspek- aspek yang bersifat umum saja yang dapat diketahui.
Perasaan orantua yang diidendifikasi sebagai berikut :
ü Kwatir akan masa depan anaknya yang tunagrahita
ü Orangtua mengalami kesulitan dengan kemampuan anaknya yang terbatas
ü Anak tunagrahita dianggap bukan masalah dalam keluarga
ü Tidak sampei membuat orangtua depresi
DAFTAR PUSTAKA
Adjid D.A., 2001. Pembinaan Profesionalisme Penyuluhan Pertanian dalam Era Otonomi Daerah (Makalah pada Lokakarya Penyuluhan Pertanian dalam Era Otonomi Daerah PERHIPTANI Cabang Sukabumi, 21 Juni 2001.
BMIP, 1995. Menumbuhkan dan Membina Kelompok Tani. Balai Metodologi Informasi Pertanian, Ciawi.
Mardikanto T., 1991. Penyuluhan dan Pembangunan. Sebelas Maret Press, Surakarta.
Marzuki, Sy., 1996. Pedoman Kelompok Modul USAHA TANI. Depdikbud. 1996.
Menteri Pertanian, 2000. Sambutan dalam rangka Seminar Sehari Pemberdayaan Penyuluhan Pertanian dalam Rangka Meningkatkan Kelembagaan Ekonomi Kerakyatan. 13 November 2000. APP Bogor.
Mounder A.H., 1972. Agricultural Extension, Food and Agricure. Organization of the United Nation, Rome.
Pusat Penyuluhan Pertanian, 1996. Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Kelompok Tani. Departemen Pertanian, Jakarta.
Sinis, M., 2000. Seminar Sehari Pemberdayaan Penyuluhan Pertanian dalam Rangka Meningkatkan Kelembagaan Ekonomi Kerakyatan, 13 November 2000. APP Bogor.
Langganan:
Postingan (Atom)
